Seni sastra

Senin, 08 November 2010

SENI SASTRA
Sastra tulis adalah produk masyarakat tulis, yang lahir setelah masyarkat itu mengenal tulisan, kemudian teknologi percetakan.Di samping sebagai sastra lisan, Sastra Betawi juga mengenal sastra tulisan yang dihasilkan oleh sejumlah penulis sejak abad ke-19 sampai hari. Di masa lalu kita mengenal para pengarang hikayat dari Pecenongan, Jakartata Pusat, yang bernama Sapirin bin Usman al-Fadil dan Muhammad Bakir yang aktif menulis naskah hikayat pada paruh kedua abad ke-19. Sementara Ahmad Beramka, putra Sapirin, baru menulis naskah di awal abad ke-20. Naskah karangan Sapirin bin Usman al-Fadil antara lain Hikayat Nahkoda Asyik dan salah satu karangan Muhammad Bakir yang terkenal adalah Hikayat Merpati Mas.
Sementara pengarang Betawi yang menulis cerita dalam sastra cetak di sekitar masa kemerdekaan adalah M. Balfas, kemudian ada S.M. Ardan dan Firman Muntaco. Mereka menulis cerita tentang masyarakat Betawi dan kehidupan sehari-hari dalam dua bahasa sekaligus, bahasa Indonesia dan Bahasa Betawi. Balfas menerbitkan kumpulan cerita Lingkaran-lingkaran Retak (1952), S.M. Ardan mengumpulkan ceritanya dalam Terang Bulan Terang di Kali (1955) dan novelet Nyai Dasima (1965), yang kemudian diterbitkan ulang oleh penerbit Masup Jakarta (2007), dan Firman Muntaco menerbitkan dua seri Gambang Jakarta. Di samping itu ada juga penulis yang bukan orang Betawi tetapi menulis cerita dengan dialek Betawi seperti Aman Datuk Madjoindo dengan cerita Si Dul Anak Betawi (1936).
Mereka menulis karya sastra yang bisa digolongan ke dalam khazanah sastra Indonesia modern dan bukan tidak mungkin mengambil inspirasi dari sastra lisan yang masih berkembang dan pernah mereka nikmati. Berikut ini adalah jenis-jenis sastra lisan Betawi yang dikenal:
Buleng
Seni sastra terbagi ke dalam dua: sastra lisan dan sastra tulisan. Sastra lisan berkembang dalam masyarakat lisan, yang meskipun hidup di dalam dunia yang sudah mengenal tulisan, bahkan percetakan, masih mempertahankan kelisanannya. Dongeng adalah salah satu sastra lisan yang hidup juga di dalam kehidupan masyarakat Betawi. Sebutan yang khas untuk sastra lisan seperti ini adalah "buleng". Buleng bisa berisi dongeng tentang kerajaan, raja atau kaum bangsawan lainnya, bisa juga berisi cerita dari kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang kata "buleng" juga dikenakan bukan hanya untuk dongeng atau ceritanya, tetapi juga untuk sang juru cerita. Kata kerjanya "ngebuleng" artinya "bercerita." Dalam penyajiannya, buleng sering kali menggunakan kalimat-kalimat liris. Judul-judul lakon buleng antara lain Gagak Karancang, Telaga Warna, Dalem Bandung, Ciung Wanara, dan Raden Gondang. Dewasa ini para juru cerita buleng sudah berusia lanjut, bahkan meninggal dunia. Yang pernah berjaya antara lain Boin dari Ciracas, Ilam dari Curug, Uwen dari Kali Malang, dan Guneng dari Cijantung. Sastra lisan ini ini tergerus oleh aneka hiburan yang disiarkan secara elektronis melalui radio dan televisi.
Sahibul Hikayat
Sahibul hikayat (artinya: pemilik cerita) adalah jenis sastra lisan yang masih bertahan di kalangan masyarakat Betawi. Penyampai "sahibul hikayat" biasa disebut "tukang cerita" atau "juru cerita" atau "juru hikayat". Juru hikayat yang terkenal antara lain Haji Ja'far, Haji Ma'ruf dan Mohammad Zahid alias "Wak Jait". Saking terkenalnya ahli yang terakhir ini cara menyampaikan hikayat itu sendiri sering pula disebut dengan "ngejait". Pekerjaan sehari-hari Mohammad Zahid adalah tukang pangkas rambut di dekat pasar kambing Tanah Abang. Dalam menyampaikan ceritanya Mohammad Zaid selalu mengenakan kain pelekat, berbaju potongan sadariah dan berpeci hitam. Pekerjaan ini kemudian diteruskan oleh putranya, Ahmad Sofyan Zahid (meninggal 2007). Dari generasi yang lebih baru bisa disebut Ita Saputra dan Edi Oglek.
Cerita-ceritanya biasanya disampaikan dalam sahibul hikayat berasal dari khazanah sastra lisan Timur Tengah, seperti "Seribu Satu Malam." Juru hikayat biasanya bercerita sambil duduk bersila, ada yang sambil memangku bantal, ada yang sesekali memukul gendang kecil yang diletakkan di sampingnya untuk memberikan aksentuasi jalan cerita. Sampai zaman Mohammad Zahid yang meninggal pada 1963 dalam usia 63 tahun, jenis cerita yang dibawakan antara lain, Hasan Husain, Malakarma, Ahmad Muhammad, Sahrul Indra Laila Bangsawan. Sementara Ahmad Sofyan Zahid mengaku pernah pula menuliskan hikayat-hikayat ciptaannya sendiri dan digunakan untuk kepentingannya sendiri.
Rancag
Kata "rancag" (menurut lidah orang Betawi Pinggiran) atau rancak (menurut lidah orang Betawi Tengah atau Kota) sama artinya dengan pantun. Cerita yang dibawakan dengan dipantunkan disebut cerita rancagan, atau cukup disebut rancag atau rancak saja, berbentuk pantun berkait. Pantun secara keseluruhan melukiskan sebuah kisah yang untuh, seperti tentang Si Angkri Jago Pasar Ikan. Pantun dalam rancag disusun secara improvisasi dengan mengikuti alur cerita yang sudah tetap. Suatu cerita dapat dipanjangkan penghidangannya dengan berbagai tambahan, misalnya dengan lawakan yang seringkali menyimpang dari cerita (lanturan/digresi). Namun demikian semua ini tetap disenangi penonton. Rancag biasa diiringi dengan orkes gambang kromong, yang biasa disebut Gambang Rancag, sebagaimana diuraikan dalam lema "Gambang Rancag."

0 komentar:

Poskan Komentar